Jakarta – Saat ini umat Islam mengenal Al-Qur’an dalam bentuk mushaf yang tersusun rapi, lengkap dengan urutan surah dan ayat. Namun, sebelum menjadi kitab seperti yang dikenal sekarang, wahyu Allah SWT memiliki perjalanan panjang hingga akhirnya dihimpun dan dibukukan.
Pada masa Rasulullah SAW, ayat-ayat Al-Qur’an belum terkumpul dalam satu kitab. Wahyu yang turun secara bertahap disampaikan langsung oleh Rasulullah SAW kepada para sahabat.
Sebagian sahabat menjaga Al-Qur’an dengan cara menghafalkannya, sementara sebagian lainnya mencatat ayat-ayat yang turun menggunakan media yang tersedia saat itu, seperti pelepah kurma, tulang, batu tipis, kulit hewan, hingga lembaran tertentu.
Dalam buku Ulumul Quran karya Gunawan dijelaskan bahwa pencatatan Al-Qur’an pada masa Rasulullah SAW belum berbentuk satu manuskrip utuh. Para sahabat menghafal dan mencatat wahyu yang mereka terima, namun belum ada penyusunan mushaf secara resmi.
Salah satu sahabat yang memiliki peran besar dalam menjaga wahyu adalah Zaid bin Tsabit RA. Beliau dikenal sebagai salah satu penulis wahyu sekaligus penghafal Al-Qur’an yang dipercaya Rasulullah SAW.
Pada masa itu, fokus utama para sahabat bukan hanya mengumpulkan tulisan, tetapi memahami, menghafalkan, serta mengamalkan ayat-ayat yang turun.
Pengumpulan Al-Qur’an pada Masa Abu Bakar Ash-Shiddiq RA
Setelah Rasulullah SAW wafat, kebutuhan untuk menghimpun Al-Qur’an mulai muncul. Hal ini terjadi setelah banyak penghafal Al-Qur’an gugur dalam berbagai peperangan, termasuk Perang Yamamah.
Kondisi tersebut membuat Umar bin Khattab RA merasa khawatir akan hilangnya sebagian hafalan Al-Qur’an. Ia kemudian mengusulkan kepada Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq RA agar ayat-ayat Al-Qur’an dikumpulkan dalam satu mushaf.
Awalnya Abu Bakar merasa ragu karena Rasulullah SAW tidak pernah melakukan pembukuan Al-Qur’an dalam satu kitab. Namun setelah mempertimbangkan pentingnya menjaga wahyu, Abu Bakar akhirnya menyetujui usulan tersebut.
Tugas besar itu kemudian diberikan kepada Zaid bin Tsabit RA.
Dalam proses pengumpulan, Zaid bekerja dengan sangat hati-hati. Ia mengumpulkan ayat-ayat yang berasal dari hafalan para sahabat maupun catatan yang telah dibuat pada masa Rasulullah SAW.
Setiap ayat diperiksa secara teliti agar tidak terjadi kesalahan dalam penyusunan mushaf.
Setelah proses selesai, mushaf tersebut disimpan oleh Abu Bakar RA. Setelah beliau wafat, mushaf berpindah kepada Umar bin Khattab RA, lalu kemudian dijaga oleh Hafsah RA, putri Umar sekaligus istri Rasulullah SAW.
Penyeragaman Mushaf pada Masa Utsman bin Affan RA
Pada masa Khalifah Utsman bin Affan RA, wilayah Islam semakin luas. Umat Islam telah tersebar hingga berbagai wilayah seperti Persia, Syam, dan Mesir.
Perluasan wilayah tersebut membawa tantangan baru. Mulai muncul perbedaan cara membaca Al-Qur’an yang dipengaruhi oleh perbedaan dialek bahasa Arab dan cara penyampaian bacaan di masing-masing daerah.
Melihat kondisi tersebut, Khalifah Utsman RA mengambil langkah untuk menjaga persatuan umat dengan membuat satu standar mushaf.
Beliau kembali meminta Zaid bin Tsabit RA memimpin tim penyusunan mushaf bersama beberapa sahabat lainnya.
Tim tersebut menyalin Al-Qur’an berdasarkan mushaf yang sebelumnya dikumpulkan pada masa Abu Bakar RA dengan memperhatikan susunan ayat dan surah sebagaimana yang diajarkan Rasulullah SAW.
Setelah selesai, mushaf standar tersebut dikirim ke berbagai wilayah Islam, seperti Makkah, Madinah, Kufah, Basrah, dan Syam.
Sementara itu, mushaf atau catatan pribadi yang memiliki perbedaan dengan mushaf standar kemudian dimusnahkan atas perintah Khalifah Utsman RA. Langkah tersebut dilakukan bukan untuk menghilangkan Al-Qur’an, tetapi untuk mencegah perselisihan bacaan dan menjaga keseragaman umat Islam.
Mushaf Al-Qur’an yang Terjaga Hingga Kini
Perjalanan panjang pembukuan Al-Qur’an menunjukkan bagaimana para sahabat menjaga wahyu Allah SWT dengan penuh kehati-hatian.
Dari hafalan para sahabat, catatan sederhana di berbagai media, hingga menjadi mushaf yang tersusun lengkap, semuanya dilakukan dengan tujuan menjaga kemurnian Al-Qur’an agar dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
Hingga hari ini, mushaf Al-Qur’an yang dibaca umat Islam di seluruh dunia tetap merujuk pada standar yang telah disusun sejak masa Khalifah Utsman bin Affan RA.
Pastikan ibadah haji dan umroh Anda lebih nyaman, aman, dan terarah bersama Jana Madinah Wisata ✨
Mulai dari persiapan keberangkatan, pendampingan ibadah, hingga pelayanan selama di Tanah Suci, kami siap menemani perjalanan ibadah Anda dengan pelayanan terbaik.
Yuk wujudkan niat suci ke Baitullah bersama Jana Madinah Wisata 🤍
📞 Konsultasi & pendaftaran sekarang juga, karena kuota keberangkatan terbatas!
