Jakarta – Isu terkait LGBT kembali menjadi perhatian publik setelah Majelis Ulama Indonesia (MUI) mendorong pemerintah dan DPR untuk memperkuat regulasi terkait aktivitas maupun kampanye yang dinilai bertentangan dengan nilai agama dan norma masyarakat.
Di tengah perdebatan tersebut, aspek kesehatan juga menjadi salah satu pembahasan. Lembaga Advokasi dan Koordinasi Kesehatan Majelis Ulama Indonesia (LAKK MUI) memberikan penjelasan mengenai risiko kesehatan yang berkaitan dengan perilaku seksual berisiko, baik pada individu LGBT maupun non-LGBT.
Ketua LAKK MUI, Dr dr H Bayu Wahyudi, SpOG MPHM MH Kes MM (RS), menjelaskan bahwa risiko kesehatan lebih banyak berkaitan dengan faktor perilaku seksual tertentu, seperti hubungan seksual tanpa perlindungan, berganti-ganti pasangan, penggunaan zat terlarang sebelum aktivitas seksual, hingga kekerasan seksual.
Dikutip dari laman MUI, Sabtu (27/6/2026), dr Bayu menyebut beberapa risiko yang dapat muncul dari perilaku seksual berisiko, salah satunya adalah peningkatan potensi infeksi menular seksual (IMS).
Beberapa penyakit yang dapat ditularkan antara lain HIV, sifilis, gonore, klamidia, hepatitis B, dan hepatitis C.
Selain infeksi menular, ia juga menjelaskan adanya risiko penyakit lain yang berkaitan dengan infeksi Human Papillomavirus (HPV), seperti kanker anus, kanker orofaring (tenggorokan), dan kanker penis.
Dampak pada Kesehatan Fisik
Menurut dr Bayu, aktivitas seksual berisiko juga dapat menimbulkan gangguan kesehatan fisik tertentu.
Beberapa kondisi yang dapat terjadi antara lain luka atau robekan pada area anus (fisura ani), peradangan rektum (proktitis), abses di sekitar anus, hingga gangguan kontrol buang air besar.
Ia menjelaskan bahwa hubungan seksual melalui anus memiliki risiko cedera lebih tinggi secara anatomi karena struktur rektum berbeda dengan organ reproduksi perempuan.
Dinding rektum memiliki lapisan jaringan yang lebih tipis dan tidak menghasilkan pelumas alami, sehingga gesekan lebih mudah menyebabkan luka kecil yang dapat menjadi jalur masuknya virus maupun bakteri.
Sementara itu, jaringan vagina memiliki struktur yang lebih elastis dan mampu menghasilkan cairan alami yang membantu mengurangi gesekan.
Dampak terhadap Kesehatan Mental
Selain aspek fisik, dr Bayu juga menyoroti faktor kesehatan mental.
Ia menyampaikan bahwa sejumlah penelitian menemukan adanya peningkatan angka depresi, gangguan kecemasan, serta risiko pikiran untuk menyakiti diri pada sebagian kelompok LGBT.
Menurutnya, kondisi tersebut dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor psikososial, termasuk tekanan lingkungan, stigma, diskriminasi, dan penolakan sosial.
Karena itu, ia menekankan pentingnya pendekatan kesehatan yang komprehensif dengan memperhatikan aspek fisik, psikologis, dan lingkungan sosial.
Pada akhirnya, pencegahan risiko kesehatan sangat berkaitan dengan kesadaran menjaga perilaku, melakukan edukasi yang tepat, serta membangun lingkungan yang mendukung kesehatan dan keselamatan setiap individu.
Pastikan ibadah haji dan umroh Anda lebih nyaman, aman, dan terarah bersama Jana Madinah Wisata ✨
Mulai dari persiapan keberangkatan, pendampingan ibadah, hingga pelayanan selama di Tanah Suci, kami siap menemani perjalanan ibadah Anda dengan pelayanan terbaik.
Yuk wujudkan niat suci ke Baitullah bersama Jana Madinah Wisata 🤍
📞 Konsultasi & pendaftaran sekarang juga, karena kuota keberangkatan terbatas!
