Makkah – Di tengah kemegahan Masjidil Haram, tersimpan sebuah lokasi yang memiliki nilai sejarah luar biasa bagi umat Islam. Tempat tersebut diyakini sebagai lokasi berdirinya rumah Siti Khadijah RA dan Rasulullah SAW, sebuah rumah yang menjadi saksi perjalanan awal dakwah Islam.

Lokasi yang dikenal sebagai Rumah Khadijah ini berada di sekitar kawasan dekat pintu keluar Marwah. Area tersebut ditandai dengan susunan ubin marmer yang memiliki corak berbeda dari lingkungan sekitarnya.

Penerjemah resmi khutbah Masjidil Haram asal Indonesia, Ahmad Musyaddad, menjelaskan bahwa sejumlah sejarawan mengaitkan lokasi tersebut dengan rumah tempat Rasulullah SAW menjalani kehidupan bersama istri tercintanya, Khadijah RA.

"Di tempat yang diblok ini, dahulu berdiri rumah Nabi SAW bersama Sayyidah Khadijah RA. Karena rumah ini merupakan tempat yang berkaitan dengan Khadijah, maka dikenal sebagai Rumah Khadijah," ujar Musyaddad saat menjelaskan jejak sirah di sekitar Masjidil Haram.


Menurutnya, Imam Al-Muhibbuddin Ath-Thabari bahkan menyebut Rumah Khadijah sebagai salah satu tempat paling mulia di Makkah setelah Masjidil Haram.

وَبَيْتُ خَدِيجَةَ الَّذِي بِمَكَّةَ أَفْضَلُ مَوْضِعٍ مِنْهَا بَعْدَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ

Artinya:

"Dan rumah Khadijah yang berada di Makkah adalah tempat paling utama di kota tersebut setelah Masjidil Haram."

Rumah yang Menjadi Saksi Turunnya Wahyu

Selama kurang lebih 28 tahun, sejak menikah hingga Rasulullah SAW berhijrah ke Madinah, rumah tersebut menjadi tempat tinggal beliau bersama Khadijah RA.

Di rumah inilah Rasulullah SAW membangun keluarga, membesarkan putra-putri beliau, serta menerima dukungan penuh dari Khadijah RA ketika menjalankan misi dakwah Islam.

Rumah tersebut juga menjadi saksi momen paling bersejarah ketika Rasulullah SAW pulang dari Gua Hira setelah menerima wahyu pertama. Dalam keadaan gemetar, beliau menemui Khadijah RA dan meminta untuk diselimuti.

"Di rumah inilah Rasulullah SAW disambut dan dikuatkan oleh Khadijah setelah menerima wahyu pertama. Di sinilah terbentuk keluarga yang menjadi teladan bagi seluruh umat manusia," kata Musyaddad.

Khadijah RA bukan hanya seorang istri bagi Rasulullah SAW, tetapi juga pendamping perjuangan yang memberikan dukungan penuh dengan jiwa, harta, dan keteguhan hatinya.

Kemuliaan Khadijah bahkan diabadikan dalam sebuah riwayat ketika Malaikat Jibril menyampaikan salam dari Allah SWT kepadanya.

"Wahai Rasulullah, sampaikan kepada Khadijah bahwa Allah menitipkan salam untuknya," ujar Musyaddad mengutip riwayat tersebut.


Rumah Kebahagiaan yang Menjadi Saksi Kesedihan

Namun, rumah penuh kenangan itu juga menyimpan kisah kesedihan Rasulullah SAW.

Pada tahun ke-10 kenabian, Khadijah RA wafat. Tidak lama kemudian, paman Rasulullah SAW, Abu Thalib, juga meninggal dunia. Peristiwa berat tersebut membuat tahun itu dikenal sebagai 'Amul Huzni atau Tahun Kesedihan.

Setelah kehilangan dua sosok yang sangat mendukung perjuangannya, Rasulullah SAW kemudian pergi ke Thaif untuk berdakwah. Namun, beliau justru mendapat perlakuan buruk, dihina, ditolak, bahkan dilempari batu hingga terluka.

Ketika kembali ke Makkah, beliau kembali ke rumah yang dahulu dipenuhi kasih sayang Khadijah, namun kini tanpa kehadiran sang pendamping tercinta.

"Beliau masuk ke rumah ini, tetapi sudah tidak ada lagi Khadijah yang menyambutnya dalam keadaan suka maupun duka," tutur Musyaddad.


Dari Kesedihan Menuju Isra Mi'raj

Dalam kondisi penuh ujian tersebut, Allah SWT memberikan penghiburan kepada Rasulullah SAW melalui peristiwa Isra Mi’raj.

Dari Masjidil Haram, Rasulullah SAW diperjalankan menuju Masjidil Aqsa hingga Sidratul Muntaha, dan dalam perjalanan tersebut beliau menerima perintah sholat lima waktu.

Menurut Musyaddad, peristiwa ini menjadi pelajaran bahwa setelah kesulitan selalu ada pertolongan Allah SWT.

"Di sinilah kita memahami bahwa seberat apa pun ujian kehidupan, jawabannya adalah kembali kepada Allah melalui sholat," ujarnya.

Isra Mi’raj menjadi titik penguatan bagi Rasulullah SAW hingga akhirnya beliau melanjutkan perjuangan dakwah dan berhijrah ke Madinah.

Saat meninggalkan Makkah, Rasulullah SAW menyampaikan kecintaannya kepada kota kelahirannya:

"Wahai Makkah, engkau adalah tanah terbaik dan tanah yang paling dicintai Allah. Seandainya aku tidak diusir darimu, aku tidak akan meninggalkanmu."

Rumah Khadijah bukan hanya sebuah lokasi bersejarah. Tempat tersebut menjadi simbol cinta, pengorbanan, kesetiaan, dan perjuangan dalam perjalanan dakwah Rasulullah SAW.

Di sanalah lahir keluarga teladan, turun wahyu pertama, hadirnya dukungan seorang istri luar biasa, hingga menjadi bagian dari perjalanan menuju salah satu peristiwa terbesar dalam sejarah Islam.


Pastikan ibadah haji dan umroh Anda lebih nyaman, aman, dan terarah bersama Jana Madinah Wisata ✨

Mulai dari persiapan keberangkatan, pendampingan ibadah, hingga pelayanan selama di Tanah Suci, kami siap menemani perjalanan ibadah Anda dengan pelayanan terbaik.

Yuk wujudkan niat suci ke Baitullah bersama Jana Madinah Wisata 🤍

📞 Konsultasi & pendaftaran sekarang juga, karena kuota keberangkatan terbatas!