Hebron – Ketegangan di wilayah Tepi Barat kembali meningkat setelah laporan menyebutkan bahwa otoritas Israel melarang kumandang azan di Masjid Ibrahimi, Hebron, selama beberapa hari berturut-turut. Pembatasan ini disebut telah berlangsung sekitar lima hari dan memicu kecaman dari pihak Palestina.

Selain pelarangan azan, militer Israel juga dilaporkan mengeluarkan perintah yang membatasi akses sejumlah pengurus masjid, termasuk direktur Masjid Ibrahimi Syaikh Mutaz Abu Sneineh serta kepala pengelola Hammam Abu Murkhiya, yang disebut tidak diizinkan memasuki area masjid untuk sementara waktu.

Menurut sumber Palestina yang dikutip Middle East Eye, pembatasan tersebut mulai diberlakukan sejak Minggu, dengan alasan adanya pekerjaan pemeliharaan dan persiapan pemasangan atap di area halaman masjid. Namun, pihak Palestina menyebut kebijakan itu berdampak langsung pada aktivitas ibadah, khususnya azan yang tidak dapat dikumandangkan seperti biasanya.


Latar Sejarah dan Status Sensitif Masjid Ibrahimi

Masjid Ibrahimi merupakan salah satu situs suci yang dihormati umat Islam dan Yahudi, karena diyakini sebagai tempat peristirahatan Nabi Ibrahim AS dan keluarganya. Namun, sejak insiden penembakan pada 1994 yang menewaskan puluhan jemaah Palestina, pengelolaan lokasi tersebut dibagi antara kedua pihak dengan pengaturan keamanan yang ketat.

Sejak saat itu, sebagian area masjid berada di bawah kendali militer Israel, sementara sebagian lainnya tetap digunakan oleh umat Muslim untuk beribadah. Pembagian ini kerap menjadi sumber ketegangan, terutama terkait akses dan kebebasan beribadah.


Tuduhan Pembatasan Akses Ibadah

Pihak Palestina menilai kebijakan terbaru ini merupakan bagian dari pola pembatasan yang sudah berlangsung lama terhadap aktivitas keagamaan di Masjid Ibrahimi. Mereka menyebut bahwa azan kerap dibatasi, terutama pada hari-hari tertentu atau saat perayaan keagamaan Yahudi.

Sejumlah laporan juga menyebutkan bahwa akses muazin ke ruang azan sering kali dibatasi, sehingga panggilan salat tidak dapat dikumandangkan sesuai jadwal. Dalam kondisi tertentu, pembatasan ini dapat menyebabkan puluhan azan tidak terdengar setiap bulannya.

Hisham Sharabati, koordinator Komite Pertahanan Hebron, menyebut bahwa pembatasan terhadap azan bukanlah hal baru, melainkan kebijakan yang telah berlangsung sejak pertengahan 1990-an dengan tingkat intensitas yang berubah-ubah.


Reaksi dan Kekhawatiran Palestina

Kementerian Wakaf dan Urusan Agama Palestina mengecam langkah tersebut dan menyebutnya sebagai bentuk pembatasan terhadap kebebasan beribadah serta upaya mengurangi peran pengelola keagamaan di Masjid Ibrahimi.

Mereka menilai tindakan ini sebagai bagian dari kebijakan yang lebih luas untuk memperketat kontrol terhadap situs suci tersebut, terutama dalam beberapa tahun terakhir.

Sementara itu, berbagai pihak di Hebron menyoroti bahwa pembatasan terhadap jemaah, pengusiran petugas, serta pengaturan akses masuk yang ketat semakin sering terjadi, terutama sejak meningkatnya ketegangan di wilayah tersebut.


Situasi yang Masih Berlanjut

Hingga kini, pembatasan di Masjid Ibrahimi masih menjadi isu sensitif yang terus diperdebatkan oleh berbagai pihak. Di tengah situasi tersebut, akses ibadah dan kebebasan menjalankan aktivitas keagamaan di lokasi suci tersebut tetap menjadi perhatian komunitas internasional dan masyarakat Palestina.


Pastikan ibadah haji dan umroh Anda lebih nyaman, aman, dan terarah bersama Jana Madinah Wisata ✨

Mulai dari persiapan keberangkatan, pendampingan ibadah, hingga pelayanan selama di Tanah Suci, kami siap menemani perjalanan ibadah Anda dengan pelayanan terbaik.

Yuk wujudkan niat suci ke Baitullah bersama Jana Madinah Wisata 🤍

📞 Konsultasi & pendaftaran sekarang juga, karena kuota keberangkatan terbatas!