Makkah — Umat Islam di Indonesia sejak lama akrab dengan istilah “naik haji” untuk menyebut perjalanan ibadah ke Tanah Suci. Padahal, secara bahasa, kata haji dalam bahasa Arab bermakna menyengaja atau menuju suatu tujuan dan tidak mengandung unsur kata “naik”.
Lalu, mengapa istilah “naik haji” begitu melekat di tengah masyarakat Indonesia?
Musyrif Diny Haji 2026, KH Cholil Nafis, menilai kata “naik” bukan hanya menggambarkan perjalanan fisik menuju Tanah Suci, tetapi juga mengandung makna meningkatnya derajat seseorang setelah menunaikan ibadah haji.
“Kalau di Betawi itu, kalau punya suami Bang Haji, naik levelnya. Saya mantunya orang Betawi terasa betul setelah berhaji, yang awalnya biasa-biasa, naik level,” ujar KH Cholil Nafis di Kantor Daerah Kerja (Daker) Makkah beberapa waktu lalu.
Menurut Rais Syuriyah PBNU tersebut, makna “naik” yang paling penting bukanlah status sosial, melainkan peningkatan kualitas spiritual seorang Muslim. Sebab, ibadah haji menghimpun berbagai unsur ibadah dalam Islam, mulai dari ibadah lisan, fisik, harta, hingga pengendalian diri.
“Inilah mengapa seseorang yang telah berhaji benar-benar disebut ‘naik’ derajat spiritualnya,” katanya.
Pandangan serupa juga disampaikan Musyrif Diny Haji 2026 lainnya, KH Asrorun Ni’am Sholeh. Ia menilai ibadah haji memiliki potensi besar mengubah seseorang karena menjadi bentuk integrasi dari seluruh rukun Islam yang telah dijalankan sebelumnya.
Karena itu, haji sering dipandang sebagai puncak perjalanan spiritual seorang Muslim.
“Pertama, syahadat merupakan rukun Islam pertama, adalah ibadah qauliyah (lisan). Dalam haji pun ada bacaan-bacaan sakral yang terus dilafalkan sepanjang waktu seperti talbiyah, doa, dan dzikir,” ujarnya.
Ia menjelaskan, shalat sebagai rukun Islam kedua juga memadukan ucapan dan gerakan fisik. Hal yang sama terdapat dalam ibadah haji melalui thawaf, sa’i, wukuf, dan rangkaian manasik lainnya.
Sementara zakat sebagai ibadah maliyah atau ibadah harta juga tercermin dalam haji yang mensyaratkan kemampuan finansial untuk biaya perjalanan dan kebutuhan keluarga yang ditinggalkan.
“Puasa adalah ibadah ruhiyah, pengendalian diri. Dalam haji juga ada dimensi ruhiyah yang kuat lewat larangan-larangan ihram seperti rafats, fusuq, dan jidal,” jelasnya.
Sementara itu, Pemimpin Majelis Dzikir Thariqah Qadiriyah wan Naqsyabandiyah (MDTQ) Nganjuk, KH Abdul Muhaimin, memaknai “naik haji” sebagai proses mengangkat ruh agar semakin dekat kepada Allah SWT.
“Maka untuk wushul kepada Allah ini harus ada orang-orang yang mengantarkan, yang sudah wushul kepada Allah,” katanya saat ditemui di Syisyah, Makkah.
Menurutnya, sebagaimana jemaah membutuhkan pembimbing untuk sampai ke Tanah Suci secara lahiriah, perjalanan ruhani menuju Allah juga memerlukan bimbingan guru yang telah lebih dahulu menempuh jalan tersebut.
“Di dalam dunia thariqah, guru yang membimbing gerakan wushul dalam berhaji ini disebut wali mursyid, yakni orang yang sudah tahu, mengalami, dan merasakan sendiri pengalaman wushul kepada Allah,” ujarnya.
Dari berbagai pandangan tersebut, istilah “naik haji” ternyata bukan sekadar soal berangkat ke Makkah. Kata “naik” juga mengandung harapan agar seseorang mengalami peningkatan iman, akhlak, serta kedekatan kepada Allah SWT setelah menunaikan rukun Islam kelima.
Pastikan ibadah haji dan umroh Anda lebih nyaman, aman, dan terarah bersama Jana Madinah Wisata ✨
Mulai dari persiapan keberangkatan, pendampingan ibadah, hingga pelayanan selama di Tanah Suci, kami siap menemani perjalanan ibadah Anda dengan pelayanan terbaik.
Yuk wujudkan niat suci ke Baitullah bersama Jana Madinah Wisata 🤍
📞 Konsultasi & pendaftaran sekarang juga, karena kuota keberangkatan terbatas!
